Ekonomi syariah dan industri halal memiliki potensi yang sangat besar. Berdasarkan data yang dirilis State of the Global Islamic Report (SGIER) edisi 2023/2024, jumlah konsumsi produk halal di dunia mencapai USD2,4 triliun pada tahun 2024. Lembaga Pew Research Centers Forum on Religion and Public Life (2023) memproyeksi jumlah populasi penduduk muslim di dunia akan terus bertambah hingga mencapai 2,2 miliar jiwa atau 26,5 persen dari total populasi dunia di tahun 2030. Peningkatan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pada permintaan produk industri halal. Konsumsi produk industri halal pada tahun 2024, mengindikasikan peluang yang sangat besar bagi industri halal dalam negeri.
Potensi besar ekonomi syariah dan industri halal ditunjukkan oleh peningkatan jumlah pengeluaran konsumen muslim sebesar 9,5%, dari USD2 triliun pada 2021 menjadi USD2,29 triliun pada 2022 (State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2023/24)., Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, yang mencapai 241,7 juta jiwa, memiliki potensi pasar yang sangat menjanjikan untuk pertumbuhan ekonomi syariah dan industri halal.
Posisi ekonomi syariah Indonesia di kancah global pun terus meningkat. Secara keseluruhan, Indonesia berhasil naik satu peringkat menjadi posisi ketiga pada Global Islamic Economy Indicator dibawah Malaysia dan Arab Saudi dan melampaui posisi Uni Arab Emirat dan Bahrain. Kenaikan tersebut ditopang oleh tiga indikator, yaitu sektor industri farmasi dan kosmetik halal yang naik dari peringkat delapan ke peringkat lima, industri makanan halal yang menempati peringkat kedua, serta modest fashion yang menempati peringkat ketiga.
Pengeluaran umat muslim Indonesia untuk produk dan layanan halal diproyeksikan meningkat sebesar 14,96% pada tahun 2025 yaitu USD281,6 miliar. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai konsumen pasar halal terbesar di dunia dengan share 11,34% dari total pengeluaran halal global. Valuasi potensi kegiatan ekonomi dari industri halal ini, yang meliputi sektor industri makanan dan minuman, fesyen, kosmetik, farmasi, pariwisata, media, serta jasa keuangan, mencapai sekitar Rp4.375 triliun.
Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa sektor halal value chain (HVC) di Indonesia akan tumbuh 4,5-5,3 persen tahun ini. Meliputi sektor pertanian, makanan dan minuman halal, fesyen muslim, serta pariwisata ramah muslim. Angka ini diestimasikan mampu menyumbang lebih dari 25% perekonomian negara. Merujuk catatan Islamic Finance Development Indicator (IFDI), posisi Indonesia dalam lima tahun mengalami kenaikan peringkat yang signifikan. Dari posisi kesepuluh pada 2018, naik langsung pada posisi ketiga di 2023.
Persaingan untuk merebut pangsa pasar global industri halal juga cukup ketat, dimana industri halal tidak hanya diminati oleh negara muslim semata. Oleh karena itu, industri halal Indonesia tentunya harus mempunyai daya saing yang lebih dari negara lainnya, karena selain memiliki potensi domestic market yang besar, peluang ekspor juga dapat dikejar.
